Minggu, 22 April 2012

BAB 5 MANUSIA, NILAI, MORAL, DAN HUKUM


A.      Hakikat Nilai Moral dalam Kehidupan Manusia
1.       Pengertian Nilai, Etika, Moral, dan Hukum
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia.
Etika dan moral dibedakan dari kaidah istilah dan ajarannya. Istilah etika digunakan untuk menyebut ilmu dan prinsip dasar penilaian baik-buruknya perilaku manusia atau berisi tentang kajian ilmiah terhadap ajaran moral tersebut, yaitu untuk memberi landasan kritis tentang mengapa orang dituntut untuk tidak melanggar aturan-aturan masyarakat. Sedangkan, istilah moral digunakan untuk menunjuk aturan dan norma yang lebih konkret bagi penilaian baik buruknya perilaku manusia. Ajaran moral berisi nasihat-nasihat konkret supaya manusia hidup lebih baik.
Pengertian norma merupakan kaidah atau aturan-aturan yang berisi petunjuk tentang tingkah laku yang harus atau tidak boleh dilakukan oleh manusia dan bersifat mengikat.
Norma dalam kehidupan:
a.       Norma Agama (berasal dari Tuhan YME)
b.      Norma Masyarakat/Sosial (bersumber dari masyarakat sendiri)
c.       Norma Kesusilaan (berasal dari diri setiap manusia)
d.      Norma Hukum (berasal dari Negara)
2.       Ciri-Ciri Nilai
Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah sebagai berikut:
a.       Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia.
b.      Nilai memiliki sifat normative, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal (das sollen).
c.       Nilai berfungsi sebagai daya dorong atau motivator dan manusia adalah pendukung nilai.
3.       Macam-Macam Nilai
Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam,yaitu:
a.       Nilai logika adalah nilai benar salah
b.      Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah
c.       Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk
Notonegoro (dalam Kaelan, 2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut.
a.       Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia.
b.      Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi aktivitas manusia
c.       Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Terdiri dari nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, dan nilai religius.
4.       Proses Terbentuknya Nilai, Etika, Moral, Norma, dan Hukum dalam Masyarakat dan Negara
Proses terbentuknya nilai, etika, moral, norma, dan hokum merupakan proses yang berjalan melalui suatu kebiasaan (habitus) untuk berbuat baik, suatu disposisi batin untuk berbuat baik yang tertanam karena dilatihkan, suatu kesiapsediaan untuk bertindak secara baik, dan kualitas jiwa yang baik dalam membantu kita untuk hidup secara benar.
5.       Dialektika Hukum dan Moral dalam Masyarakat dan Negara
Hukum dapat dikatakan adil atau tidak tergantung dari wilayah penilaian moral. Hokum disebut adil bila secara moral memang adil. Norma moral dan norma hokum sebenarnya tidak terpisahkan karena ukuran keadilan suatu hokum bukan hanya ditentukan oleh norma moral, dan bukan pula oleh norma hokum sendiri.
6.       Perwujudan Nilai, Etika, Moral, dan Norma dalam Kehidupan Masyarakat dan Negara
Perwujudan nilai-nilai, etika, moral, dan norma dalam keyakinan iman bisa saja diterapkan sebagai hokum jika norma moral yang terkandung di dalamnya bersifat universal.
7.       Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder
Kualitas primer, yaitu kualitas dasar yang tanpanya objek tidak dapat menjadi ada, sama seperti kebutuhan primer yang harus ada sebagai syarat hidup manusia, sedangkan kualitas sekunder merupakan kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindera seperti warna, rasa, bau, dan sebagainya, jadi kualitas sekunder seperti halnya kualitas sampingan yang memberikan nilai lebih terhadap sesuatu yang dijadikan objek penilaian kualitasnya.
8.       Tuntutan dan Sanksi Moral, Norma, Hukum dalam Masyarakat Bernegara
Orang hanya melakukan kebaikan kalau itu merupakan sebuah perintah atau larangan. Tidak ada kewajiban dan aturan berarti tidak ada tindakan kebaikan. Oleh karena itu, pada umumnya apabila seseorang telah melakukan kesalahan di dalam masyarakat,  tuntutan dan sanksi yang akan diterimanya adalah dikucilkan, merasa dipermalukan, dicap sebagai orang yang tidak tahu aturan, dan lain sebagainya.
9.       Keadilan, Ketertiban, dan Kesejahteraan Masyarakat sebagai Wujud Masyarakat Bermoral dan Menaati Hukum
Aristoteles memberikan contoh keutamaan moral, yaitu:
a.       Keberanian, yaitu orang dihindarkan dari sifat nekat dan pengecut.
b.   Ugahari (prinsip secukupnya, kesederhanaan, empan papan), yaitu orang dihindarkan dari kelaparan dan kekenyangan.
c.    Keadilan
Sebagai warga masyarakat yang baik seharusnya bisa mentaati dan mematuhi nilai dan norma yang berlaku, sehingga kita bisa menjadi warga yang bermoral dan beretika.
10.   Nilai Moral sebagai Sumber Budaya dan Kebudayaan
Ciri utama suatu masyarakat manusia adalah suatu kebudayaan sebagai hasil berbagai karya, rasa, dan cipta manusia selaku makhluk berakal baik untuk melindungi dirinya sendiri dari keganasan alam maupun dalam rangka menaklukannya ataupun untuk menyelenggarakan hubungan hidup bermasyarakat secara tertib dan utuh.
10.1  Nilai Moral sebagai Sumber Budaya
Ada dua jenis sumber etika atau moral, yaitu dari Tuhan YME (etika atau moral kodrat) dan dari manusia (etika atau moral budaya).
10.2  Nilai Moral sebagai Rujukan NIlai Budaya
System nilai budaya merupakan gambaran perilaku baik, benar, dan bermanfaat yang terdapat dalam pikiran.
10.3  Nilai Moral sebagai Nilai-Nilai Luhur Budaya Bangsa
Moral bersifat kodrati, sejak diciptakan, manusia sudah dibekali dengan sifat-sifat yang baik, jujur, dan adil. Apabila kita terus-menerus berbuat baik sehingga terbiasa dan membudaya akan menyebabkan kita disebut orang yang beradab.
10.4  Nilai Moral sebagai Hasil Penilaian
Apabila perwujudan kebudayaan penekanannya pada akal dapat disebut dengan peradaban tinggi dan rendah karena diukur dengan tingkat berpikir manusia. Apabila kebudayaan dihubungkan dengan peradaban akan muncul pernyataan walaupun peradaban rendah belum tentu kebudayaannya rendah.
10.5  Nilai Moral sebagai Nilai Objektif dan Nilai Subjektif Bangsa
System nilai mengandung tiga unsure, yaitu norma moral sebagai acuan perilaku, keberlakuan norma moral  hasilnya perbuatan baik, dan nilai-nilai sebagai produk perbuatan berdasarkan norma moral. System nilai budaya akan dipahami dan dipatuhi oleh orang lain atau kelompok masyarakat apabila diwujudkan dalam perbuatan yang nyata yang dapat dijadikan teladan.
10.6  Nilai Moral sebagai Kebudayaan dan Peradaban sebagai Nilai Masyarakat
Konsepsi-konsepsi tentang nilai yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat membentuk system nilai budaya. System nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia dalam tingkatan yang paling abstrak. System tata kelakuan lain yang tingkatnya lebih konkret seperti peraturan hokum dan noma-norma semuanya berpedoman pada system nilai budaya tersebut.
B.      Problematika Pembinaan Nilai Moral
1.       Pengaruh Kehidupan Keluarga dalam Pembinaan Nilai Moral
Keluarga berperan sangat penting bagi pembinaan nilai moral anak. Hal ini karena dalam keluargalah, pendidikan pertama dan utama anak sebelum memasuki duni pendidikan dan masyarakat.
2.       Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral
Pengaruh pergaulan dengan teman sebaya sangat mempengaruhi sikap dan perilaku generasi muda kita dalam hal moralnya. Oleh karena itu, pemilihan teman dalam bergaul, khususnya teman yang baik akan membantu membina nilai moral anak.
3.       Pengaruh Figur Otoritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu
Figur otoritas harus member contoh yang baik bagi masyarakat, khusunya bagi generasi muda. Pengaruh figur otoritas terhadap perkembangan nilai moral individu sangat besar pengaruhnya. Figur otoritas yang baik akan memberi contoh teladan yang baik bagi anak dan masyarakat pada umumnya, begitu juga sebaliknya.
4.       Pengaruh Media Telekomunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
Pengaruh media telekomunikasi akhir-akhir ini memang cukup memprihatinkan di kalangan generasi muda. Penyalahgunaan sarana telekomunikasi yang seharusnya digunakan sesuai fungsinya ini cukup mempengaruhi sikap dan perilaku generasi muda kita. Perilaku pergaulan bebas dan seks bebas akhirnya merambah dengan begitu cepat di kalangan generasi muda.
5.       Pengaruh Media Elektronik dan Internet terhadap Pembinaan Nilai Moral
Banyak generasi muda yang sekarang ini mendapatkan akses lebih mudah untuk menonton film porno terutama melalui internet, dan hal ini tentunya sangat memprihatinkan karena sesungguhnya pengaruh buruk dari internet seperti itu bisa merusak lima bagian otak, dibandingkan mengonsumsi narkoba yang merusak tiga bagian otak.
C.      Manusia dan Hukum
Dalam hidupnya, manusia tidak pernah terlepas dari hokum. Setiap siakp dan perilakunya termasuk tutur kata senantiasa diawasi dan dikontrol oleh hokum yang berlaku. Kehidupan manusia sehari-hari berjalan ssuai dengan hokum yang berlaku. Bagi manusia yang mematuhi hokum akan selamat, sedangkan bagi manusia yang tidak mematuhi hokum akan mendapat sanksi atau hukuman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar